Nama Ipda Purnomo mungkin baru-baru ini mencuat karena isu penonaktifan monetisasi YouTube, namun jejak pengabdiannya di dunia kemanusiaan telah berjalan hampir satu dekade. Pria kelahiran Lamongan, 7 April 1980, ini menempuh jalan hidup yang berliku sebelum akhirnya dikenal luas sebagai polisi yang merangkul kelompok paling terpinggirkan di masyarakat.
Kehidupan muda Purnomo jauh dari kata mudah. Ibunya pernah terlilit utang demi memastikan dapur tetap menyala, dan Purnomo kecil sering diolok teman karena jarang keluar rumah. Tahun 1999, ia memutuskan merantau ke Surabaya untuk mengadu nasib. Selama sekitar satu setengah tahun, tepatnya 1999 hingga 2000, ia bertahan hidup dengan berjualan soto. Setiap minggu ia pulang ke Lamongan hanya dengan membawa uang Rp20.000 hingga Rp40.000 untuk diberikan kepada ibunya. Cita-cita awalnya pun bukan menjadi polisi; Purnomo muda bercita-cita menjadi seorang kiai dan memperdalam ilmu agama di pesantren.
Perubahan arah hidup datang ketika ia mendapat informasi pendaftaran polisi dari sang tante. Dengan modal doa dan perjuangan, ia diterima menjadi anggota Polri. Kariernya sempat membawanya bertugas di Samarinda, Kalimantan Timur, sebelum akhirnya dikembalikan ke kampung halamannya di Lamongan. Di sana ia menjabat sebagai Bhabinkamtibmas, kemudian naik menjabat Kepala Unit Pembinaan Ketertiban Masyarakat (Kanit Binpolmas) Satuan Bina Masyarakat (Satbinmas) Polres Lamongan.
Kepedulian sosial Purnomo bermula dari hal sederhana: keprihatinannya terhadap seorang janda lanjut usia yang hidup dalam kondisi kurang mampu. Bantuan yang ia berikan mendapat respons positif dari masyarakat, sehingga kegiatan serupa terus ia lakukan dan berkembang. Pada 5 Mei 2017, ia mendirikan Yayasan Sosial Berkas Bersinar Abadi, yang menjadi wadah pendampingan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, rumahnya berubah menjadi tempat penampungan yang merawat, memberi makan, memandikan, dan membantu ODGJ agar dapat kembali menjalani kehidupan bersama keluarga.
Skala kegiatannya cukup besar. Dalam kunjungan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi ke yayasan tersebut pada 22 Juni 2023, tercatat terdapat 137 ODGJ yang menjadi binaan Purnomo dan para pengurus, di mana 79 di antaranya mendapatkan layanan secara gratis. Dedikasinya pernah diuji secara fisik: ia pernah dipukul hingga berdarah-darah oleh seorang ODGJ di tengah jalan, namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya. "ODGJ tetap merupakan manusia yang memiliki hak untuk diperlakukan secara layak dan manusiawi," ujar Purnomo, yang meyakini kemampuan dan kesempatan sebagai anggota kepolisian seharusnya dapat digunakan untuk membantu orang lain.
Di tengah kesibukan itu, Purnomo tidak berhenti belajar. Sejumlah laporan menyebut ia baru saja diwisuda jenjang magister, dan pada September 2026 dilaporkan tengah menempuh program Magister Psikologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk memperdalam kapasitas keilmuan dalam pendampingan ODGJ. Atas seluruh dedikasinya, namanya pernah masuk dalam bursa usulan Hoegeng Awards sebagai ikon polisi teladan. Ia menikah dengan Lilik Ika dan dikaruniai tiga orang anak, yang bersama-sama dengan timnya terus menjalankan misi kemanusiaan itu.
